Selasa, 26 Februari 2013

Pengaruh Hindu-Budha di Bidang Seni


  1. Masuknya Kebudayaan Hindu – Budha  di Bidang Seni Pertunjukan

Indonesia telah membawa pengaruh terhadap perkembangan kebudayaan di Indonesia. Bangsa Indonesia yang sebelumnya memiliki kebudayaan asli, banyak mengadopsi dan mengembangkan budaya India dalam kehidupan sehari-hari. Namun, masyarakat tidak begitu saja menerima budaya-budaya baru tersebut. Kebudayaan yang datang dari India mengalami proses penyesuaian dengan kebudayaan yang ada di Indonesia yang disebut dengan proses akulturasi kebudayaan. Dalam bidang agama juga lahir sinkretisme, yaitu perpaduan antara agama Hindu-Buddha dengan kepercayaan yang telah ada dan berkembang di masyarakat Indonesia pada saat itu. Sehingga agama Hindu-Buddha yang dianut oleh bangsa Indonesia pada aman kerajaan-kerajaan sangat berbeda dengan agama Hindu-Buddha yang ada di India. Masuknya agama Hindu dan Buddha tidak serta merta menghilangkan unsur budaya lama yang telah berkembang dalam
masyarakat Indonesia. Salah satu contoh yang sangat mencolok dalam kehidupan masyarakat Hindu di Indonesia misalnya dalam sistem kasta. Sistem kasta di Indonesia yang mengadopsi dari agama Hindu tidak sama dengan sistem kasta yang berkembang dari tanah kelahiran agama tersebut yaitu India. Baik dari ciri-ciri maupun keketatannya tidak menggambarkan keadaan seperti sistem kasta di India. Bangsa Indonesia melaksanakan teori tentang kasta, tetapi tidak memindahkan wujudnya seperti yang berkembang di India, melainkan disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang sudah berlaku sebelumnya. Beberapa unsur kebudayaan yang berkembang pada aman kerajaan Hindu-Buddha antara lain, seni bangunan, seni ukir, seni sastra, seni pertunjukan dan seni patung.
Seni pertunjukan,terutama seni wayang sampai sekarang merupakan
salah satu bentuk seni yang masih populer di kalangan masyarakat Indonesia.Seni wayang beragam bentuknya seperti wayang kulit,wayang golek,dan wayang orang.Seni pertunjukan wayang tampaknya telah dikenal oleh bangsa Indonesia sejak zaman prasejarah.Pertunjukan wayang pada masa ini selalu dikaitkan dengan fungsi magis religius yaitu sebagai bentuk upacara pemujaan pada arwah nenek moyang yang disebut Hyang . Kedatangan arwah nenek moyang diwujudkan dalam bentuk bayangan dari sebuah wayang yang terbuat dari kulit. Lakon wayang pada masa ini lebih banyak menceritakan tentang kepahlawanan dan petualangan nenek moyang, seperti lakon-lakon “Dewi Sri” atau “Murwakala”. Pertunjukan wayang diadakan pada malam hari di tempat tempat yang dianggap keramat. Pada masa Hindu-Buddha, kebudayaan pertunjukan wayang ini terus dilanjutkan dan lebih berkembang lagi dengan cerita-cerita yang lebih kaya. Cerita-cerita yang dikembangkan dalam seni wayang kemudian sebagian besar mengambil epik yang berkembang dari agama Hindu-Buddha terutama cerita Ramayana dan Mahabharata. Meskipun demikian, tampaknya cerita yang dikembangkan dalam seni pertunjukan wayang tidak seluruhnya merupakan budaya atau cerita yang sepenuhnya berasal dari India. Unsurunsur budaya asli memberikan ciri tersendiri dan utama dalam seni wayang.Hal ini terlihat dengan dimasukkannya tokoh-tokoh baru yang kita kenal dengan sebutan Punakawan. Tokoh-tokoh punakawan seperti Bagong, Petruk dan Gareng (dalam seni wayang golek disebut Astrajingga atau Cepot, Dewala dan Gareng) tidak akan kita temukan dalam cerita-cerita epik populer India seperti Ramayana dan Mahabharata, sebab penciptaan tokoh-tokoh tersebut asli dari Indonesia. Munculnya tokoh Punakawan ini untuk pertamakalinya diperkenalkan oleh Mpu Panuluh yang hidup pada aman kerajaan Kediri. Dalam karya sastranya yang berjudul Ghatotkacasraya, Mpu Panuluh menampilkan unsur punakawan yang berjumlah tiga, yaitu Punta, Prasanta dan Juru Deh sebagai hamba atau abdi tokoh Abhimanyu, putra Arjuna. Dalam karyanya tersebut, Mpu Panuluh masih menggambarkan tokoh punakawan sebagai tokoh figuran yang kaku dan porsi cerita terbesar masih dipegang oleh tokoh-tokoh utama. Pada perkembangan selanjutnya tokoh punakawan ini menjadi tokoh penting dalam seni pertunjukan wayang, sebab memberikan unsur humor dan lelucon yang dapat membangun cerita wayang lebih menarik lagi. Dimasukkannya tokoh-tokoh punakawan juga seakan-akan untuk menggambarkan hubungan antara bangsa India dengan penduduk asli. Pembauran budaya asli dengan budaya Hindu-Buddha terlihat juga pada pencampuradukan antara mitos-mitos lama dengan cerita-cerita baru dari India. Misalnya dalam kitab Pustaka Raja Purwa menggambarkan dewa-dewa agama Hindu yang turun ke bumi dan menjadi penguasa di tanah Jawa. Sang Hyang Syiwa menjadi raja di Medang Kamulan, Sang Hyang Wisnu menggantikan kedudukan Prabu Watu Gunung dengan gelar Brahma Raja Wisnupati.

  1. Beberapa Seni Pertunjukan dan Pengaruhnya yang di Bawa Oleh Kebudayaan Hindu – Budha
1.      Ramayana

Besarnya pengaruh wiracarita Ramayana dan Mahabharata yang berasal dari India itu terhadap masyarakat Jawa, bisa kita cermati lewat nama – nama tempat yang meminjam nama – nama tempat yang terdapat di dalam wiracarita. Demikian pula nama – nama orang. Sungai Praga dan sungai Serayu di Jawa Tengah, jelas merupakan nama – nama sungai yang terdapat di dalam wiracarita Ramayana, yaitu sungai Prayaga dan Sungai Serayu. Nama kota Situbanda di Jawa Timur, jelas meminjam nama galangan yang menghubungkan antara daratan India dengan pulau Srilanka yang di bangun oleh kera – kera pasukan Rama. Bahkan, nama daerah Istimewa Yogyakarta meminjam nama ibukota kerajaan Rama yaitu Ayodya. Nama – nama orang, terutama di kalangan bangsawan dan priyayi, juga banyak meminjam dari kedua wiracarita tersebut. Nama – nama itu antara lain Subarata, Wibisana, Legawa, Maruti, Sulaksmana, Suparta, Dananjaya, Harjuna, Sumargana, Bimasena, Sukarna, Sadewa,
Wasista, Padya, Abimanyu, Sumbadra, Larasati, Warsiki, Dresanala, Surama, Wijasena, Pratiwi, Utari, dan sebagainya, jelas meminjam nama – nama yang terdapat di dalam wiracarita Ramayana dan Mahabharata. Selain itu lakon – lakon pertunjukan wayang kulit di Jawa dan Bali sampai dewasa ini yang paling di sukai di masyarakat adalah lakon – lakon yang di ambil dari kedua wiracarita tersebut.

2.      Bedaya Ketawang

Tari Bedaya di istana – istana Surakarta dan Yogyakarta yang dibawakan oleh sembilan penari wanita merupakan tari upacara yang konon di anggap sakral. Kesakralan itu antara lain terletak pada jumlah penari yang sembilan, yang bisa di hubungkan dengan kosmologi Hindu, angka sembilan dianggap sebagai angka yang sangat sakral, karena angka ini melambangkan sembilan arah mata angin atau sembilan dewa penjaga mata angin. Pada masyarakat bali yang bernama Hindu Dharma pedanda (rokhaniwan) serta pemangku (pengelola pura) ketika memimpin upacra pertama kali ia harus mempersembahkan sesaji kepada Nawa Sanga, yaitu dewa – dewa sembilan mata angin. Kesembilan mata angin itu adalah :
1.      Wisnu ( Utara)
2.      Sambu (Timur Laut)
3.      Iswara ( Timur)
4.      Mahesora ( Tenggara)
5.      Brahma ( Selatan)
6.      Rudra ( Barat Daya)
7.      Mahadewa ( Barat)
8.      Sengkara ( Barat Laut)
9.     Siwa ( Tengah)
Maksud utama dari penyelenggaraan tari Bedaya adalah untuk menjaga keseimbangan alam atau jagat raya, yaitu keseimbangan antara mikro kosmos dan makro kosmos. Oleh kalangan istana Jawa, jumlah penari bedaya yang sembilan itu kadang – kadang juga dikaitkan dengan faham kejawen. Dikatakan bahwa jumlah sembilan melambangkan jumlah lubang yang terdapat pada tubuh manusia. Kesembilan lubang yang ada pada tubuh manusia itu adalah :
1.      Satu mulut
2.      Dua mata
3.      Dua lubang hidung
4.      Dua lubang telinga
5.      Satu dubur
6.      Satu alat kelamin
Apabila seseorang bisa nutupi babahan nawa sanga yang berarti menutup sembilan lubang, ia akan menjadi manusia yang sempurna, oleh karena itu ia mampu mengekang kesembilan hawa nafsunya.
Gambaran manusia sempurna ini bisa kita dapatkan dalam cerita Arjunawiwaha. Inti cerita ini menggambarkan ketika arjuna sedang menggambarkan ketika Arjuna sedang melakukan tapa di gunugn Indrakila, denga tujuan agar pada perang besar Bharatayuda, yaitu perang antara keluarga Pandawa melawan keluarga Korawa, ia bisa menyelamatkan seluruh keluarga Pandawa. Ketika menjalankan tapa itu Arjuna benar – benar mampu mengekang kesembilan hawa nafsunya, hingga ia mampu menandingi siapa saja, termasuk para dewa. Dalam menghadapi cobaan di pertapanya yang dilakukan oleh Batara Guru, hampir saja Arjuna melumatkan tubuh sang dewa. Selain itu, ketika dewa Indra menanyakan keadaan Junggringsalaka tentang berapa jumlah para dewa yang sedang menghadap Batara Guru, ia juga bis a menebaknya dengan tepat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar